Psikologi Forensik

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Ketika kita mendengar kata “hukum,” apa yang pertama kali terlintas dalam benak kita? Jarang sekali kita langsung membayangkan suatu perangkat yang terdiri dari benda, manusia dan lembaga. Tetapi karena kita terbiasa mengalami hal-hal yang berkaitan dengan hukum, maka kita kadang mengidentifikasikan atau mengartikan hukum sebagai polisi, penjara, pengadilan, atau hal-hal lain semacamnya. Bahkan seringkali perasaan yang timbul diiringi rasa takut dan khawatir yang berlebihan. Itu sebabnya banyak diantara kita yang sama sekali enggan berurusan dengan hal-hal yang menyangkut hukum. Perasaan-perasaan seperti itu sangat wajar, kalau saja kita belum memahami sepenuhnya apa yang dimaksud dengan hukum itu sendiri.

Pada hakekatnya hukum merupakan produk dari perkembangan masyarakat, di mana ketidak – teraturan dan kesewenang – wenangan juga kepentingan-kepentingan dari sekelompok masyarakat tertentu membutuhkan dan menghasilkan proses terciptanya serangkaian ketentuan-ketentuan dan kesepakatan-kesepakatan. Ketentuan – ketentuan yang disepakati itu kemudian dalam perkembangannya dikenal sebagai “hukum.” Sehingga pada sebuah tubuh yang namanya hukum, dia mempunyai dua muka atau sisi: sisi keadilan dan sisi kepentingan.

Permasalahan hukum di Indonesia pun memang tidak sedikit jumlahnya, namun hukum di Indonesia sering tidak melibatkan seorang ahli psikologi dalam membantu proses hukum. Beberapa orang menyebutkan beberapa kasus kriminal yang perlu peran seorang ahli psikologi, dalam hal ini Psikolog Forensik. Kasus seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan menurut saya hampir semua kasus hukum, selama itu melibatkan manusia sebagai tokoh, Psikolog Forensik harus ikut andil dalam proses hukum, mulai dari pra persidangan sampai pasca pemberian hukuman.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini

1. Apa itu psikologi forensik ?

2. Bagaimana sejarah psikologi forensik

3. Mengapa psikologi forensik jarang berperan dalam kasus kriminal ?

4. Apa peran psikologi forensik dalam hukum ?

5. Apakah psikolog forensik bisa menyelesaikan masalah kriminal ?

C.  Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini diharapkan kita semua dapat :

1.  Menjelaskan secara rinci apa itu psikologi forensik

2.  Menambah wawasan tentang materi psikologi forensik
3.  Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan psikologi forensik
4.  Menyelesaikan tugas makalah psikologi sosial

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Psikologi Forensik

Psikologi forensik adalah penelitian dan teori psikologi yang berkaitan dengan efek-efek dari faktor kognitif, afektif, dan perilaku terhadap proses hukum. Beberapa akibat dari kekhilafan manusia yang mempengaruhi berbagai aspek dalam bidang hukum adalah penilaian yang bias, ketergantungan pada stereotip, ingatan yang keliru, dan keputusan yang salah atau tidak adil. Karena adanya keterkaitan antara psikologi dan hukum, para psikolog sering diminta bantuannya sebagai saksi ahli dan konsultan ruang sidang. Aspek penting dari psikologi forensik adalah kemampuannya untuk mengetes dipengadilan, reformulasi penemuan psikologi ke dalam bahasa legal dalam pengadilan, dan menyediakan informasi kepada personel legal sehingga dapat dimengerti. Maka dari itu, ahli psikologi forensik harus dapat menerjemahkan informasi psikologis ke dalam kerangka legal.

Menurut Nietzel (1998) Psikolog Klinis dapat memainkan berbagai peran dalam system legal,antara lain meliputi bidang :

Law Enforcement Psychology : mengadakan riset tentang aktivitas lembaga hukum dan memberikan pelayanan klinis langsung dalam mendukung aktivitas lembaga tersebut. Ex : melakukan fit & proper test pada polisi yang dianggap tidak memenuhi kualifikasi, menawarkan intervensi krisis pada petugas kepolisian, memberikan konsultasi pada polisi tentang individu yang terjerat kriminalitas, membantu menginterview saksi dalam kasus criminal.

The Psychology of litigation : menitikberatkan pada efek-efek dari berbagai prosedur legal, biasanya yang digunakan pada pemeriksaan sipil dan criminal. Ex : menawarkan saran pada pengacara tentang seleksi juri, mempelajari factor-faktor yang mempengaruhi pertimbangan dan putusan juri, menganalisa efek-efek khusus dari pemeriksaan mulai dari kalimat pembuka, cross-examination of witnesses dan kalimat penutup.

Correctional Psychology : memusatkan perhatian pada layanan psikologis terhadap individu yang ditahan sebelum dinyatakan sebagai narapidana suatu tindak criminal. Sebagian besar psikolog koreksional bekerja di penjara dan pusat rehabilitasi remaja, tetapi ada juga yang membuka lembaga percobaan atau mengambil bagian dalam masyarakat khusus yang berbasis program koreksional. aplikasi ilmu kesehatan mental dan keahlian dalam mempertanyakan individu yang terlibat dalam prosedur legal. Pertanyaan-pertanyaannya meliputi :

1.    Apakah individu mengalami sakit mental sepenuhnya dan secara potensial berbahaya untuk dirumah sakitkan ?

2.    Apakah seseorang yang dituduh melakukan tindak kriminal secara mental cukup kompeten untuk menjalani pemeriksaan?

3.    Apakah suatu hasil kecelakaan atau trauma menyebabkan luka psikologis bagi seseorang, dan seberapa seriuskah ?

4.    Apakah seseorang memiliki kapasitas mental yang adekuat dalam memahami keinginan/kehendaknya ? dll.

Psikolog Forensik menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mengaplikasikan hasil riset empiris dan keterampilan serta tehnik-tehnik dalam profesinya. Kemudian menawarkan pendapat-pendapat mereka selama kesaksian dalam pemeriksaan/persidangan sipil atau kriminal atau prosedur legal yang lain.

B.    Sejarah Psikologi Forensik

Pada tahun 1901, William Stern melaporkan bahwa dia sedang meneliti ketepatan ingatan orang — suatu rintisan awal dalam penelitian yang banyak dilakukan pada masa kini tentang ketepatan kesaksian seorang saksi. Dalam ceramahnya kepada sejumlah hakim Austria pada tahun 1906, Freud mengatakan bahwa psikologi dapat diaplikasikan pada hukum. Kemudian John Watsonjuga mengemukakan bahwa psikologi dan hukum memiliki kesamaan kepentingan.

Pada tahun 1908, Hugo von Munsterberg menerbitkan bukunya tentang the Witness Stand.Dia mengeluhkan bahwa tidak ada orang yang lebih resisten daripada insan hukum terhadap gagasan bahwa psikolog dapat berperan dalam pengadilan. Dia menuduh bahwa pengacara, hakim, dan bahkan juga anggota juri tampaknya berpendapat bahwa yang mereka butuhkan agar dapat berfungsi dengan baik hanyalah common sense.

Prof. John Wigmore (1909), seorang profesor hukum terkemuka di Northwestern University, memandang dakwaan Munsterberg itu sebagai arogansi. Untuk menanggapi dakwaan tersebut, Wigmore menulis sebuah fiksi karikatur yang menggambarkan pengadilan terhadap Munsterberg. Munsterberg dituntut karena telah menyebarkan fitnah, dituduh telah membesar-besarkan peranan yang dapat ditawarkan oleh seorang psikolog, mengabaikan pertentangan pendapat yang terjadi di kalangan para psikolog sendiri, dan tidak dapat memahami perbedaan antara hasil laboratorium dan realita persyaratan hukum. Tentu saja “pengadilan” itu menempatkan Munsterberg pada posisi yang kalah dan harus membayar denda.

Serangan Wigmore ini demikian pintar dan menghancurkan sehingga baru 25 tahun kemudian psikolog dipandang tepat lagi untuk berperan sebagai seorang saksi ahli. Akan tetapi, tidak lama menjelang kematiannya sekitar 30 tahun kemudian, Wigmore memperlunak kritiknya. Dia menyatakan bahwa pengadilan seyogyanya siap menggunakan setiap cara yang oleh para psikolog sendiri disepakati sebagai cara yang sehat, akurat, dan praktis.

Namun demikian, pengaruh langsung psikologi relatif kecil terhadap hukum hingga tahun 1954. Pada tahun tersebut Kejaksaan Agung akhirnya memberi perhatian pada ilmu-ilmu sosial dalam kasus dissegregasi Brown v. Board of Education. Kemudian, pada tahun 1962 Hakim Bazelon, yang menulis tentang the U.S. Court of Appeals untuk the District of Columhia Circuit, untuk pertama kalinya menyatakan bahwa psikolog yang berkualifikasi dapat memberikan kesaksian di pengadilan sebagai saksi ahli dalam bidang gangguan mental.

Kini, psikolog selalu dilibatkan sebagai saksi ahli dalam hampir semua bidang hukum termasuk kriminal, perdata, keluarga, dan hukum tatausaha. Di samping itu, mereka juga berperan sebagai konsultan bagi berbagai lembaga dan individu dalam sistem hukum. Kini psikologi forensik telah tiba pada suatu titik di mana terdapat spesialis dalam bidang penelitian psikolegal, program pelatihan interdisiplin sudah menjadi sesuatu yang lazim, dan berbagai buku dan jurnal dalam bidang keahlian ini sudah banyak diterbitkan.

C. Psikologi forensik menurut para ahli

a). Suprapti & Sumarmo Markam (2003).

Psikologi Forensik adalah interface dari Psikologi dan Hukum, dan merupakan aplikasi

pengetahuan psikologi khususnya psikologi klinis, pada masalah-masalah yang dihadapi jaksa,

polisi dll untuk penyelesaian masalah yang berhubungan dengan keadaan sipil, criminal dan

administrative (civil, criminal, administrative justice)

b). APA (Heilbrun dalam Cronin, 2007)ü

Psikologi Forensik didefinisikan sebagai praktek professional dari psikolog dalam bidang

psikologi klinis, psikologi konseling, neuropsikologi, dan psikologi sekolah, dimana mereka

berperan dan merepresentasikan diri secara rutin sebagai ahli, dalam aktivitas utama yang

bertujuan untuk memberikan keahlian psikologis professional pada system peradilan.

D.     Ruang Lingkup Psikologi Forensik

Ada 5 (lima) bidang yang sering ditawarkan Nietzel & Bernstein (1998) :

1. Kompetensi untuk menjalani pemeriksaan/persidangan dan tanggung jawab criminal (Criminal responsibility).

2. Kerusakan psikologis dalam pemeriksaan sipil

3. Kompetensi sipil

4. Otopsi psikologi dan Criminal Profilling

5. Child Custody (hak asuh anak) dan Parental Fitness (kelayakan sebagai orangtua)

Bidang yang dinamakan psikologi forensic mencakup peran psikolog Phares (dalam Markam, 2003) dalam menentukan beberapa hal penting yaitu :

1.    Psikolog dapat menjadi saksi ahli. Ada perbedaan antara saksi ahli dan saksi biasa. Saksi ahli harus mempunyai kualifikasi (Clinical Expertise), meliputi pendidikan, lisensi, pengalaman, kedudukan, penelitian, publikasi, pengetahuan, aplikasi, aplikasi prinsip-prinsip ilmiah serta penggunaan alat tes khusus.

2.    Psikolog dapat menjadi penilai dalam kasus-kasus criminal, misalnya menentukan waras/tidaknya (sane/insane) pelaku criminal, bukan dalam arti psikologis, namun dalam arti legal/hokum.

3.    Psikolog dapat menjadi penilai bagi kasus-kasus madani/sipil. Termasuk didalamnya menentukan layak tidaknya seseorang masuk RSJ, kekerasan dalam keluarga dll.

4.    Psikolog dapat juga memperjuangkan hak untuk memberi/menolak pengobatan bagi seseorang.

5.    Psikolog diharapkan dapat memprediksi bahaya yang mungkin berkaitan dengan seseorang. Misalnya : dampak baik/buruk mempersenjatai seseorang. Psikolog diharapkan tahu tentang motivasi, kebiasaan dan daya kendali seseorang.

6.    Psikolog diharapkan dapat memberikan treatmen sesuai dengan kebutuhan.

7.    Psikolog diharapkan dapat menjalankan fungsi sebagai konsultan dan melakukan penelitian di bidang psikologi forensic.

Peranan psikologi forensik adalah sebagai:

  1. Ahli judisial yang menelaah variabel variabel yang berperan dalam tindak kejahatan
  2. Evaluasi mental korban kecelakaan kerja
  3. Edukasi kepada penuntut dan pembela hukum tentang aspek aspek psikologis penganiayaan seksual pada anak
  4. Dll

Fungsi utama dalam setting hukum adalah membantu para administrator, hakim, anggota juri dan pengacara dalam mengambil keputusan hukum yang lebih didasari informasi yang cukup.

Masalah – masalah yang dieksplorasi:

1. Kajian psikologis tentang kriminal (psichology of criminal conduct, psychology of criminal behavior, criminal psychology) 

2. Forensic clinical psychology and correctional psychologicy -> konsentrasi pada assesment dan penanganan / rehabilitasi perilaku yang tidak diinginkan secara sosial 

3. Police psychology, investigative psychology, behavioral science -> mempelajari metode – metode yang digunakan lembaga kepolisian 

4. Psychology and law -> fokus pada proses persidangan hukum, sikap serta keyakinan keyakinan para partisipan

Cakupan area bidang kerja psikologi forensik adalah:

  1. Assesmen kompetensi mental
  2. Assesmen keadaan mental pada saat kejadian
  3. Evaluasi hak asuh anak
  4. Asesmen terhadap cedera atau disabilitas mental

Psikologi Forensik preventif:

  1. Rekomendasi penetapan hukuman
  2. kekerasan di sekolah
  3. kekerasan di tempat kerja
  4. penganiayaan seksual anak
  5. Terorisme
  6. tindak kejahatan

E.  Pelaku psikologi forensik

Ilmuwan psikologi forensik. Tugasnya melakukan kajian/ penelitian yang terkait dengan aspek-aspek perilaku manusia dalam proses hukum. Pada dasarnya hampir semua penelitian dalam bidang psikologi itu relevan dengan beberapa isu forensik. misalnya, penelitian tentang komponen genetik schizophrenia mungkin sangat penting dalam sidang pengadilan tentang kompetensi mental. Hakikat sikap prejudice atau elemen-elemen dasar proses persuasi juga penting bagi pengacara. Penelitian konsumen mungkin mempunyai aplikasi langsung pada kasus tuntutan pertanggungjawaban produk. Dan akhir-akhir ini, penelitian tentang atribusi dan hubungan interpersonal telah diaplikasikan pada undang-undang tentang penggeledahan dan perampasan. Akan tetapi, beberapa bidang penelitian telah menjadi sangat dikaitkan dengan psikologi forensik, dan dalam bagian ini akan dibahas dua bidang, yaitu kesaksian saksi mata dan perilaku juri.

  1. Kesaksian mata

Kesaksian saksi mata sering tidak dapat diandalkan dan tidak akurat, sehingga sering kali orang yang tidak bersalah dinyatakan bersalah atau sebaliknya. Penelitian menunjukkan bahwa ingatan saksi mata dapat terdistorsi dengan mudah oleh informasi yang diperolehnya kemudian.

  1. Perilaku juri

Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengetahui bagaimana anggota juri memahami bukti dan memproses informasi, bagaimana mereka merespon instruksi dari meja pengadilan, dan bagaimana mereka bereaksi terhadap jenis argumen tertentu. Anggota juri sering bingung dengan instruksi dari hakim. Satu penelitian menunjukkan bahwa bila pola instruksi yang diberikan kepada juri itu disederhanakan, misalnya dengan menggunakan kalimat aktif, pesannya pendek dan singkat, istilah-istilah hukum yang abstrak lebih dijelaskan, maka mereka mampu menerapkan hukum secara lebih akurat.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Secara konsisten APA mendefinisikan dan menempatkan Psikologi Forensik pada penekanan dalam pengembangan keterampilan klinis yang solid (matang). Meskipun training khusus dalam bidang hukum dan Forensik Psikologi bisa dilakukan, namun kompetensi ini akan berkembang dan dimiliki setelah keahlian di bidang klinis dikembangkan.
Individu yang ingin berkarir di Psikologi Forensik pertama kali harus mengembangkan keterampilan klinis yang kuat baik dalam :

1.    Asessment,

2.    Memahami psikopatologi,

3.    Penulisan laporan,

4.    Wawancara diagnostic

5.    Presentasi kasus.

Psikolog forensik harus diikut sertakan dalam pemecahan kasus kriminal seperti pembunuha, pemerkosaan, pencurian, dan sebagainya, karena kejahatan bisa timbul dari berbagai aspek, baik itu dari segi psikis seseorang maupun niat, oleh karena itu psikolog forensik bisa menjadi detektif dalam penegakan hukum di dunia.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_forensik

http://yannytuharyati.blogspot.com/2009/06/psikologi-forensik.html

http://www.psychologymania.com/2011/09/psikologi-forensik-bagian-dari-kajian.html

http://srireskipsikologi.blogspot.com/2013/03/makalah-psikologi-hukum-forensik.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s